Lorenzo Tak Mengikuti Perintah The Doctor?

Lorenzo : “Saya tak peduli siapa rekan satu timku”

Jorge Lorenzo adalah pembalap yang mawas diri.  Di trek terkadang anda melihatnya bersama sekelompok orang dan semua orang berbicara kecuali Jorge. Ia duduk dengan kepala bersandar di tangannya tak melihat ke siapapun, pikirannya jauh melayang beribu mil dari pembicaraan yang sedang berlangsung. Ia terkadang tampak tidak menyadari hal-hal di sekitarnya yang tak ada urusan langsung dengannya.

Lorenzo adalah sebuah paradoks. Seorang superstar olahraga dikenal jutaan penggemar dan pada saat yang bersamaan seorang pria yang menikmati ruang pribadinya. Ia termasuk pembalap yang aktif di Twitter (500.000 followers)  Biografinya “My Story So Far” adalah sekedar aliran panjang dari kesadaran Lorenzo yang menganalisa lagi masa lalunya secara berulang.

Sekarang Valentino Rossi ditetapkan untuk menjadi tandem Jorge Lorenzo untuk musim 2013, sejarah mengenai mereka akan ditulis ulang sehingga mereka bisa bersahabat dan bekerja sama. Hal ini terlepas dari kenyataan bahwa pertama kalinya mereka bekerja sama hubungan mereka langsung ditulis untuk naskah film 48 hours : “Kami bukan saudara, kita bukan pasangan, dan kami bukan teman”. Bahkan unsur Latin masing-masing kru mereka berselisih. Bahkan antar kru pun mengalami pertentangan.

Dan saat ini mereka yang sedang tersipu-sipu kini harus berhenti sejenak, ketika Valentino Rossi mendiskusikan kembali bergabung Yamaha dan bergabung dengan musuh lamanya, Jorge Lorenzo, karena ia tahu sebagian besar orang dalam MotoGP menyadari : Rossi tidak menginginkan Lorenzo di timnya ketika pembalap Spanyol bergabung di MotoGP. Rossi menginginkan pembalap Amerika, Colin Edwards untuk tetap menjadi rekan satu timnya. Mengapa Rossi tak ingin itu adalah masalah spekulasi tapi itu sudah cukup menunjukkan bahwa beberapa pembalap yang lebih tua lebih suka menolak pembalap baru yang cepat di tim mereka.

Sepanjang periode Rossi dan Lorenzo bersama, Lorenzo lebih banyak memendam semua di kepalanya, tampak tidak menyadari bahwa Rossi ada di sana dan fakta bahwa Rossi tidak menginginkannya. Pernah, setelah balapan kami berbicara dengan Lorenzo, butuh waktu lama baginya untuk mengakui bahwa menjadi rekan satu tim Rossi adalah pekerjaan terberat dalam balapan. Ia mengatakan berkali-kali bahwa hidup sesuai dengan harapannya adalah hal yang paling menantang. Sementara Rossi, mendindingi dirinya sendiri di garasi bersama tim, tapi ia tak bisa menghentikan semangat Lorenzo.

Selama tahun terakhirnya di tim Yamaha, jelas bagi Rossi – dan  setiap orang – bahwa kondisi MotoGP saat itu adalah VR46 mengalahkan pria tua dengan rambut teranyam (Gibernau) atau dua pembalap yang terlihat merusak diri sendiri di posisi puncak ataupun yang meminta tanda tangan Rossi di podium (Elias dan Melandri). Sekarang lawan adalah Lorenzo, Pedrosa dan Stoner.

Rossi memiliki banyak karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Karunia dalam bakat ia mengendarai motor, mengeset motor MotoGP konvesional yang pastinya sudah tak diragukan lagi, tapi ia pun memiliki anugerah waktu. Bukan hanya timing untuk menyalip lawan, melainkan juga timing untuk menentukan perubahan yang tepat ketika sebuah era harus berakhir. Tapi sepertinya anugerah ini meninggalkannya ketika ia pindah ke Ducati, namun diragukan apakah ia membuat keputusan yang salah ketika memilih untuk kembali ke Yamaha.

Meskipun Lorenzo ingin, Lorenzo tidak bisa menghalangi atau mencegah Valentino Rossi kembali ke Yamaha ke tim pabrikan. Dua tahun sudah Rossi pindah ke Ducati masih ada poster raksasa Rossi tergantung di toko balap Eropa Yamaha, dan pembalap Italia tersebut pun masih sangat populer dengan manajemen race Jepang dan Eropa.

Karunia lain yang dimiliki Rossi adalah keberuntungan, ketika Rossi meminta Lorenzo melupakan semua kenangan yang tidak manis di antara mereka sewaktu menjadi rekan satu tim, itu pun terjadi.

Tidaklah benar bila mengatakan bahwa Lorenzo menikmati kesempatan untuk balapan bersama Rossi dengan motor yang sama. Bagi Lorenzo ada jutaan hal lain yang akan menyibukkan dirinya sendiri sebelum – jika pernah –  mempertimbangkan konsekuensi untuk menjadi rekan satu tim Rossi lagi. Bagi Lorenzo, Rossi adalah pria yang harus dikalahkan di hari Minggu dan mungkin bagi Valentino itu adalah penghinaan yang paling besar.

3 Tanggapan to “Lorenzo Tak Mengikuti Perintah The Doctor?”

  1. Kata2nya keren

  2. wah bagus banget nih…
    andai setiap berita enak dibaca n tidak membosankan seperti ini…
    gue penggemar #46 tp jadi simpatik dengan #99 setelah membaca artikel ini…
    bravo mbah..

  3. yupppp…susunan kalimat yg uenak di cerna, ”makanan kale” 1000% makin top aj dah..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: