04
Agu
12

Valentino Rossi Antara Dua Pilihan

Rossi hatinya bercabang dua antara Ducati dan Yamaha

Valentino Rossi mungkin memiliki pasukan penggemar karena pesona karisma latinnya :) namun ledakan emosional Rossi secara cerdas jarang terekspos media. Tetapi tahun ini kita bisa melihat ledakan The Doctor sesering Ducati mengupdate GP12 nya.

Membaca gelagat dan maksud tersirat Valentino Rossi di media dan konferensi pers tentang tujuannya tahun depan dan mengenai sedikit pertanyaan apakah ia akan tetap di Ducati atau kembali ke Yamaha menjadi rekan pendamping Lorenzo adalah salah satu keputusan terbesar dalam sejarah karir Rossi yang termasyhur :D Alasannya sederhana, karena keputusan keduanya mempunyai kutub yang sangat berlawanan.

Rossi akan mendapatkan lebih banyak uang di Ducati, 17 Juta Euro. Sedangkan bila bersama Yamaha hanya 3-4 juta Euro. Dan Rossi pun harus membawa sponsor pribadi, Monster, ke Yamaha. Namun hal tersebut bukanlah masalah karena pesona dan popularitas Valentino Rossi secara global akan membantunya menarik sponsor seperti semut mengerubungi sepotong permen yang dijatuhkan di aspal di hari yang panas.

Selain itu, dikabarkan Yamaha tidak akan membayar kru Rossi yang dipimpin oleh Jeremy Burgess yang legendari dan kemungkinan bayarannya mahal. Mekanik-mekanik Rossi yang luar biasa ini telah mengikutinya dari Honda ke Yamaha, jadi pastilah Rossi akan menjaga keutuhan timnya Rossi harus merogoh kocek jauh lebih dalam.

Ada segmen media MotoGP dan fanbase yang menolak untuk mengakui bahwa, pada usia 33 dan 17 tahun di musim Grand Prix, Rossi telah kehilangan sihirnya. Mereka menyalahkan semua masalah secara kompleks campur aduk antara serat karbon dan aluminium yang telah diluncurkan Ducati bersama GP11 dan GP12 selama dua tahun terakhir.

Suatu gagasan yang terdengar naif.

Mungkin di tahun pertamanya orang dapat memaklumi bahwa ini tahun pertama Rossi dengan Ducati jadi ia masih dalam tahap penyesuaian dari motor Jepang ke motor Italia, dan penyesuaian cara kerja nya lebih mengejutkan dibandingkan dengan pembalap yang paling siap sekalipun. Rata-rata poin yang diperoleh Hayden di tahun pertamanya pada tahun 2009 adalah 6.1 setelah 6 tahun bersama Repsol Honda. Namun ia bangkit kembali untuk rata-rata 9,1 poin per balapan di musim kedua dengan Ducati di tahun 2010.

Melalui 10 balapan musim ini, rata-rata poin yang dikumpulkan Rossi adalah 8.2 – sama persis tahun lalu – jadi meski ia lebih familiar dengan tim dan motornya – Valentino belum membuat kemajuan dan di paruh petama musim ini dia berada di belakang Hayden pada klasemen sementara.

Jadi apa yang membuat Rossi  berpikir dia bisa mengalahkan Lorenzo, yang secara luas diakui sebagai pembalap paling lengkap di planet ini dan seorang yangi mencapai masa jayanya, pada mesin yang sama pada tahun 2013?

Tapi masih Rossi kelihatannya bersikeras, bahkan ia mengambil resiko pemotongan gaji dan mempertaruhkan jubah kebesarannya yang tak terkalahkan di depan para pendukungnya yang paling bersemangat baik di media maupun tribun yang ada di seluruh dunia.

Rossi mengakui setelah tersingkir Minggu lalu di Laguna Seca bahwa motivasinya menjadi melemah di Ducati.

“Sudah sangat sulit dan mungkin lebih buruk dari tahun lalu, atau kurang lebih sama,” kata Rossi. “Sangat sulit untuk menjaga konsentrasi yang cukup dan kekuatan, terutama mental untuk tetap berkonsentrasi ketika Anda memahami Anda hanya bisa memperjuangkan posisi yang tidak terlalu penting.”

Sepertinya Rossi juga sudah kehilangan rasa percaya diri di Ducati untuk mengubah GP12 menjadi GP13 yang bisa membawa kemenangan,  meski sudah mendapat sokongan dari Audi.

“Kami memiliki masalah yang nyata. Lagi-lagi ban depan terasa sulit bekerja meski dalam waktu yang lama, setelah 30 lap saja ban bagaikan terasa baru”, ujar Rossi  - yang dalam siaran pers resmi biasanya isi berita dipoles vanila sana sini biar cantik, dipernis dengan kata-kata indah dan didesain untuk menyembunyikan separuh fakta yang ada untuk melindungi pabrikan.

Jelas dari komentar tersebut bahwa pria ini tidak sedang condong untuk berada di paddock yang sama musim depan.

 

About these ads

3 Tanggapan ke “Valentino Rossi Antara Dua Pilihan”


  1. 1 marwanriki
    Agustus 4, 2012 pada 8:02 am

    masalahnya slalu sama… artinya insinyur ducati tidak tau buat motor kompetitif seperti keinginan rossi, mungkin karena tidak terbiasa bekerja detail dengan hasil terbaik…. JADI PINDAH KE YAMAHA SAMA DENGAN PILIHAN TERBAIK….so BUKAN ROSSI GAK BISA JINAKAN DUCATI TAPI DUCATI GAK BISA DEVELOP MOTOR

  2. 2 Jr.
    Agustus 4, 2012 pada 6:42 pm

    semoga vale46 mendpt pilihan tepat dan kembali ke jalur persaingan di motogp.

  3. Agustus 5, 2012 pada 4:02 am

    akankah cerita Karier Valentino Rossi berakhir dengan manis bersama team Yamaha?atau menjadi awal kehancuran yang menyakitkan.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


jarak pandang

  • 790,244

Kategori

Agustus 2012
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 96 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: